![]() |
| Wayang Gunungan |
PENGANTAR
Dalam beberapa dekade terakhir ini, generasi muda kita terancam kehilangan identitas dan jati dirinya. Gelombang arus modernisasi yang memberikan berbagai kemudahan dan kenikmatan menyebabkan pola hidup yang condong ke arah hedonisme. Kecenderungan lebih disebabkan candu dari negara barat yang menjadi kiblat utama mereka dalam melakukan segala tindakan. Akibatnya, muncul sikap tak acuh terhadap budaya kita yang sebenarnya merupakan warisan yang luhur dari para leluhur.
Memprihatinkan memang ketika anak-anak sekarang yang banyak mengidolakan bintang-bintang layar kaca. Padahal perilaku sang idola yang terkadang memberikan contoh yang kurang baik dan diimitasi oleh anak-anak dalam kesehariannya. Contohnya saja wayang. Hanya sebagian kecil dari anak-anak dan remaja kita khususnya yang berdomisili di Pulau Jawa yang mengetahui apa itu wayang, siapa saja tokoh karakter wayang, atau bahkan alur ceritanya.
Oleh karena itu, diperlukan suatu media agar wayang dapat kembali menyatu dengan dunia anak-anak. Karena sesungguhnya tokoh karakter wayang memiliki watak yang unik dan layak dijiwai dan digandrungi oleh anak-anak. Apalagi dengan alur cerita yang memiliki falsafah nilai, norma, dan moral dapat memberikan pengaruh yang positif dalam pembentukan karakter bagi anak.
WAYANG DAN KEPRIBADIAN YANG BERKARAKTER
Wacana pendidikan berkarakter sedang gencar didengung-dengungkan kementrian pendidikan nasional Indonesia melahirkan berbagai gagasan dan ide. Pendidikan berkarakter pada hakikatnya merupakan pembentukan karakter peserta didik melalui pengajaran dan penggemblengan di bangku pendidikan. Namun, dalam implementasi pendidikan berkarakter yang sesungguhnya belum terlihat pemetaan tujuan secara jelas. Sehingga dengan mengilhami atau mendalami falsafah wayang; dapat memberikan sumbangsih untuk mewujudkan pendidikan yang berkarakter, walaupun hanya sebagian kecil.
Bukanlah suatu hal yang asing bagi kita penduduk Indonesia tentang keberadaan dan eksistensi dari wayang. Terutama penduduk tanah Jawa sebagai tanah leluhur tempat di mana wayang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Konon wayang kulit merupakan salah satu media yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Dalam pementasan wayang, terdapat cerita, pesan, dan nasihat yang sengaja disampaikan secara tersirat maupun tersurat oleh dalang. Wayang berasal dari arti katanya adalah “bayang-bayang”. Wayang merupakan hasil dari bayangan dari gambar yang diwujudkan dengan tokoh yang memiliki beberapa karakter.
Layaknya sebuah drama, wayang juga merupakan drama. Namun, yang membedakan dengan drama lainnya adalah letak pemain, iringan, dan pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh sang sutradara, yakni dalang. Skenario sebuah cerita atau judul pementasan wayang biasanya diilhami dari sebuah peristiwa yang memiliki petuah-petuah. Wayang mengajarkan kita tentang kehidupan tanpa kita merasa digurui. Karena pelajaran itu disisipkan secara halus ke dalam benak kita melalui alam bawah sadar dengan perantara karakter dari tokoh wayang.
Lantas, bagaimana hubungannya wayang sebagai warisan budaya leluhur dengan pendidikan berkarakter? Dalam pengantar sebelumnya telah dijelaskan bahwa cerita wayang memiliki petuah-petuah tentang kehidupan yang layak kita jadikan sebagai falsafah hidup kita. Apalagi di masa sekarang ini, banyak orang Indonesia yang mengaku Indonesia namun sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Melalui media wayang dapat mewujudkan pendidikan yang berkarakter, khususnya bagi orang-orang Jawa.
1. Wayang Merupakan Warisan Leluhur
Sunan Kalijaga adalah tokoh sentral yang melahirkan dan mengenalkan wayang kepada mayarakat Jawa. Tidak lain tujuan diciptakannya sebuah wayang dengan segala perangkat iringan (gamelan), nyanyian (sinden), dan diolah dengan harmonisasi yang sesuai; memiliki maksud dan tujuan tertentu. Pada masa itu, penyebaran agama Islam sulit diterima dan menembus lingkungan budaya Jawa istana yang telah canggih dan halus itu. Dalam Harmoni Dalam Budaya Jawa (2003, 83), Muh. Roqib menjelaskan bahwa cerita babad Jawa menerangkan bahwa raja Majapahit tidak mau menerima agama baru. Sehingga Islam tidak mudah masuk Istana. Akhirnya dalam berdakwah, para Wali Songo di antaranya Sunan Kalijaga digambarkan:
“..sebagai suatu perlambang dan suatu ide nyata, Sunan Kalijaga mempertautkan Jawa yang Hindu dan Jawa yang Islam, daan di situlah terletak daya tariknya sama juga untuk kita maupun oran lain. Apa pun sebenarnya yang terjadi, ia dipandang sebagai jembatan antara dua peradaban tinggi, dua epos sejarah, dan dua agama besar; yaitu Hinduisme-Budhaisme Majapahit yang di situ ia dibesarkan, dan Mataram Islam yang ia kembangkan”. (Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradaban)
Secara tersirat Sunan Kalijaga menampilkan sosok yang serba damai dan rukun. Proses penyebaran Islam diharmonisasikan dengan budaya setempat sehingga akulturasi ini menghasilkan gabungan dua budaya yang melahirkan budaya baru namun budaya lama masih tetap dipertahankan.
Belajar dari pengalaman sejarah, untuk membentuk karakter anak dapat dilakukan dengan damai dan penuh kasih seperti yang telah dicontohkan Sunan. Mengapa demikian? Tidak lain hal ini disebabkan karena pengaruh modernisasi dan globalisasi yang membentuk karakter manja bagi anak. Karakter manja lahir akibat kemudahan yang didapatkan.
Dalam era sekarang khususya, anak dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Sehingga anak cenderung bersifat kurang mau berjuang dan berkorban serta memiliki etos kerja yang rendah. Potret anak zaman sekarang yang manja membuat mereka terlalu sensitive terhadap hal-hal yang menyangkut tentang kehidupan mereka. Apalagi bila nasehat itu disampaikan dengan cara “memaksa” maka kontan membuat anak “pasang kuda-kuda” melakukan penolakan.
2. Wayang Memiliki Falsafah Kehidupan
Cerita yang diperankan wayang diilhami dari tokoh-tokoh yang berasal dari India. Seperti cerita Epos Ramayana, Mahabarata, Dewa Ruci dan sebagainya. Namun, seiring berjalannnya waktu cerita wayang dipadu padankan dan diharmonisasikan dengan zaman sekarang.
Dalam cerita wayang juga dapat difungsikan sebagai sarana pengendalian sosial untuk melakukan kritik terhadap pemerintahan, mengulas peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar masyarakat, yang terkadang berisi sindiran terhadap penyimpangan yang dilakukan rezim penguasa ataupun tokoh-tokoh yang familiar dengan masyarakat.
Lakon yang diambil dari suatu pertunjukkan wayang biasanya mengandung petuah, nasehat, dan nilai-nilai moral. Budaya jawa pada hakikatnya kaya akan ajaran-ajaran yang filosofis. Namun menariknya cara orang-orang zaman dahulu menyampaikan dan mengajarkannya menggunakan media yang digemari masyarakat. Melalui gending-gending Jawa, geguritan, dan wayang adalah diantaranya. Dengan adanya media ini, pesan yang akan disampaikan oleh dalang kepada orang-orang dapat diterima, tanpa mereka merasa digurui.
Menurut Moh. Roqib dalam bukunya Harmoni Dalam Budaya Jawa, Falsafah Jawa yang disampaikan dapat berupa petuah-petuah antara lain:
Mawas Diri atau Sadar Posisi
Orang Jawa lebih suka memecahkan problem kehidupan, melalui sikap mawas diri, instropeksi diri dan tepo seliro, sadar posisi terlebih dahulu, sebelum mengambil tindakan yang menimbulkan konsekuensi terhadap orang lain. Moh Sa’id, mantan Mendiknas menjelaskan bahwa:
- Neng-ning-nung-nang, seseorang harus memperhatikan bahwa perasaan seseorang itu tenang, terang, dan diam (meneng) hanya apabila seseorang diam, jiwanya akan menjadi jernih (bening) dan dia akan dapat berpikir dengan baik (anung). Dengan cara itu dpat diperoleh saat terbaik untuk menentukan bentuk cara yang efektif atas problema yang sedang dihadapi (menang).
- Nglurug tanpa bala, melawan dengan tanpa pasukan sehingga tidak menakutkan masyarakat.
- Menang tanpa ngasorake, menang tetapi tidak membuat orang lain merasa rendah, tidak ada yang kalah.
- Sugih Tanpa banda, kaya tanpa gemerlap harta artinya walaupun kaya tapi tetap bertahan dengan pola hidup yang sederha; sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial
- Weweh Tanpa Kelangan, member tanpa kehilangan, karena keikhlasan dapat menimbulkan timbale balik yang positif, dan tidak akan merugikan.
- Sinten engkang damel nggangge, sinten engkang nanem ngunduh,Orang yang menghasilkan atau memproduksi yang akan memakannya, dan orang yang menanam akan memetik buahnya.
KESIMPULAN
Wayang merupakan peninggalan dan warisan yang luhur dari para leluhur yang wajib diuri-diuri. Dalam lakon yang dikisahkan dalang; memuat berbagai falsafah yang berisi petuah-petuah. Mengilhami falsafah wayang (ngugemi) dapat mewujudkan pendidikan yang berkarakter seperti wacana pemerintah. Kepribadian yang memiliki karakter kuat, dapat diperoleh jika nilai-nilai dan falsafah dari wayang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan adanya pendalaman terhadap falsafah wayang; dapat menciptakan generasi yang berbudi luhur dan berkarakter.
Referensi: Roqib, Moh. 2007. Harmoni Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Majid, Nurcholis. 1995. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadhina
