BERBAGI KATA, BERBAGI RASA, BERBAGI CERITA

Senin, 14 November 2011

MENGILHAMI FALSAFAH WAYANG SEBAGAI WUJUD PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK YANG BERKARAKTER

Wayang Gunungan

PENGANTAR
Dalam beberapa dekade terakhir ini, generasi muda kita terancam kehilangan identitas dan jati dirinya. Gelombang arus modernisasi yang memberikan berbagai kemudahan dan kenikmatan menyebabkan pola hidup yang condong ke arah hedonisme. Kecenderungan lebih disebabkan candu dari negara barat yang menjadi kiblat utama mereka dalam melakukan segala tindakan. Akibatnya, muncul sikap tak acuh terhadap budaya kita yang sebenarnya merupakan warisan yang luhur dari para leluhur.
 Memprihatinkan memang ketika anak-anak sekarang yang banyak mengidolakan bintang-bintang layar kaca. Padahal perilaku sang idola yang terkadang memberikan contoh yang kurang baik dan diimitasi oleh anak-anak dalam kesehariannya. Contohnya saja wayang. Hanya sebagian kecil dari anak-anak dan remaja kita khususnya yang berdomisili di Pulau Jawa yang mengetahui apa itu wayang, siapa saja tokoh karakter wayang, atau bahkan alur ceritanya.
Oleh karena itu, diperlukan suatu media agar wayang dapat kembali menyatu dengan dunia anak-anak. Karena sesungguhnya tokoh karakter wayang memiliki watak yang unik dan layak dijiwai dan digandrungi oleh anak-anak. Apalagi dengan alur cerita yang memiliki falsafah nilai, norma, dan moral dapat memberikan pengaruh yang positif dalam pembentukan karakter bagi anak.

WAYANG DAN KEPRIBADIAN YANG BERKARAKTER
Wacana pendidikan berkarakter sedang gencar didengung-dengungkan kementrian pendidikan nasional Indonesia melahirkan berbagai gagasan dan ide. Pendidikan berkarakter pada hakikatnya merupakan pembentukan karakter peserta didik melalui pengajaran dan penggemblengan di bangku pendidikan. Namun, dalam implementasi pendidikan berkarakter yang sesungguhnya belum terlihat pemetaan tujuan secara jelas. Sehingga dengan mengilhami atau mendalami falsafah wayang; dapat memberikan sumbangsih untuk mewujudkan pendidikan yang berkarakter, walaupun hanya sebagian kecil.
Bukanlah suatu hal yang asing bagi kita penduduk Indonesia tentang keberadaan dan eksistensi dari wayang. Terutama penduduk tanah Jawa sebagai tanah leluhur tempat di mana wayang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Konon wayang kulit merupakan salah satu media yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Dalam pementasan wayang, terdapat cerita, pesan, dan nasihat yang sengaja disampaikan secara tersirat maupun tersurat oleh dalang. Wayang berasal dari arti katanya adalah “bayang-bayang”. Wayang merupakan hasil dari bayangan dari gambar yang diwujudkan dengan tokoh yang memiliki beberapa karakter.
            Layaknya sebuah drama, wayang juga merupakan drama. Namun, yang membedakan dengan drama lainnya adalah letak pemain, iringan, dan pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh sang sutradara, yakni dalang. Skenario sebuah cerita atau judul pementasan wayang biasanya diilhami dari sebuah peristiwa yang memiliki petuah-petuah. Wayang mengajarkan kita tentang kehidupan tanpa kita merasa digurui. Karena pelajaran itu disisipkan secara halus ke dalam benak kita melalui alam bawah sadar dengan perantara karakter dari tokoh wayang.
            Lantas, bagaimana hubungannya wayang sebagai warisan budaya leluhur dengan pendidikan berkarakter? Dalam pengantar sebelumnya telah dijelaskan bahwa cerita wayang memiliki petuah-petuah tentang kehidupan yang layak kita jadikan sebagai falsafah hidup kita. Apalagi di masa sekarang ini, banyak orang Indonesia yang mengaku Indonesia namun sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Melalui media wayang dapat mewujudkan pendidikan yang berkarakter, khususnya bagi orang-orang Jawa.
1.   Wayang Merupakan Warisan Leluhur
Sunan Kalijaga adalah tokoh sentral yang melahirkan dan mengenalkan wayang kepada mayarakat Jawa. Tidak lain tujuan diciptakannya sebuah wayang dengan segala perangkat iringan (gamelan), nyanyian (sinden), dan diolah dengan harmonisasi yang sesuai; memiliki maksud dan tujuan tertentu. Pada masa itu, penyebaran agama Islam sulit diterima dan menembus lingkungan budaya Jawa istana yang telah canggih dan halus itu. Dalam Harmoni Dalam Budaya Jawa (2003, 83), Muh. Roqib menjelaskan bahwa cerita babad Jawa menerangkan bahwa raja Majapahit tidak mau menerima agama baru. Sehingga Islam tidak mudah masuk Istana. Akhirnya dalam berdakwah, para Wali Songo di antaranya Sunan Kalijaga digambarkan:
“..sebagai suatu perlambang dan suatu ide nyata, Sunan Kalijaga mempertautkan Jawa yang Hindu dan Jawa yang Islam, daan di situlah terletak daya tariknya sama juga untuk kita maupun oran lain. Apa pun sebenarnya yang terjadi, ia dipandang sebagai jembatan antara dua peradaban tinggi, dua epos sejarah, dan dua agama besar; yaitu Hinduisme-Budhaisme Majapahit yang di situ ia dibesarkan, dan Mataram Islam yang ia kembangkan”. (Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradaban)
Secara tersirat Sunan Kalijaga menampilkan sosok yang serba damai dan rukun. Proses penyebaran Islam diharmonisasikan dengan budaya setempat sehingga akulturasi ini menghasilkan gabungan dua budaya yang melahirkan budaya baru namun budaya lama masih tetap dipertahankan.
Belajar dari pengalaman sejarah, untuk membentuk karakter anak dapat dilakukan dengan damai dan penuh kasih seperti yang telah dicontohkan Sunan. Mengapa demikian? Tidak lain hal ini disebabkan karena pengaruh modernisasi dan globalisasi yang membentuk karakter manja bagi anak. Karakter manja lahir akibat kemudahan yang didapatkan.
Dalam era sekarang khususya, anak dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Sehingga anak cenderung bersifat kurang mau berjuang dan berkorban serta memiliki etos kerja yang rendah. Potret anak zaman sekarang yang manja membuat mereka terlalu sensitive terhadap hal-hal yang menyangkut tentang kehidupan mereka. Apalagi bila nasehat itu disampaikan dengan cara “memaksa” maka kontan membuat anak “pasang kuda-kuda” melakukan penolakan.
2.   Wayang Memiliki Falsafah Kehidupan
Cerita yang diperankan wayang diilhami dari tokoh-tokoh yang berasal dari India. Seperti cerita Epos Ramayana, Mahabarata, Dewa Ruci dan sebagainya. Namun, seiring berjalannnya waktu cerita wayang dipadu padankan dan diharmonisasikan dengan zaman sekarang.
Dalam cerita wayang juga dapat difungsikan sebagai sarana pengendalian sosial untuk melakukan kritik terhadap pemerintahan, mengulas peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar masyarakat,  yang terkadang berisi sindiran terhadap penyimpangan yang dilakukan rezim penguasa ataupun tokoh-tokoh yang familiar dengan masyarakat.
Lakon yang diambil dari suatu pertunjukkan wayang biasanya mengandung petuah, nasehat, dan nilai-nilai moral. Budaya jawa pada hakikatnya kaya akan ajaran-ajaran yang filosofis. Namun menariknya cara orang-orang zaman dahulu menyampaikan dan mengajarkannya menggunakan media yang digemari masyarakat. Melalui gending-gending Jawa, geguritan, dan wayang adalah diantaranya. Dengan adanya media ini, pesan yang akan disampaikan oleh dalang kepada orang-orang dapat diterima, tanpa mereka merasa digurui.
Menurut Moh. Roqib dalam bukunya Harmoni Dalam Budaya Jawa, Falsafah Jawa yang disampaikan dapat berupa petuah-petuah antara lain:
Mawas Diri atau Sadar Posisi
Orang Jawa lebih suka memecahkan problem kehidupan, melalui sikap mawas diri, instropeksi diri dan tepo seliro, sadar posisi terlebih dahulu, sebelum mengambil tindakan yang menimbulkan konsekuensi terhadap orang lain. Moh Sa’id, mantan Mendiknas menjelaskan bahwa:
-       Neng-ning-nung-nang, seseorang harus memperhatikan bahwa perasaan seseorang itu tenang, terang, dan diam (meneng) hanya apabila seseorang diam, jiwanya akan menjadi jernih (bening) dan dia akan dapat berpikir dengan baik (anung). Dengan cara itu dpat diperoleh saat terbaik untuk menentukan bentuk cara yang efektif atas problema yang sedang dihadapi (menang).
-       Nglurug tanpa bala, melawan dengan tanpa pasukan sehingga tidak menakutkan masyarakat.
-       Menang tanpa ngasorake, menang tetapi tidak membuat orang lain merasa rendah, tidak ada yang kalah.
-       Sugih Tanpa banda, kaya tanpa gemerlap harta artinya walaupun kaya tapi tetap bertahan dengan pola hidup yang sederha; sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial
-       Weweh Tanpa Kelangan, member tanpa kehilangan, karena keikhlasan dapat menimbulkan timbale balik yang positif, dan tidak akan merugikan.
-       Sinten engkang damel nggangge, sinten engkang nanem ngunduh,Orang yang menghasilkan atau memproduksi yang akan memakannya, dan orang yang menanam akan memetik buahnya.

KESIMPULAN
            Wayang merupakan peninggalan dan warisan yang luhur dari para leluhur yang wajib diuri-diuri. Dalam lakon yang dikisahkan dalang; memuat berbagai falsafah yang berisi petuah-petuah. Mengilhami falsafah wayang (ngugemi) dapat mewujudkan pendidikan yang berkarakter seperti wacana pemerintah. Kepribadian yang memiliki karakter kuat, dapat diperoleh jika nilai-nilai dan falsafah dari wayang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan adanya pendalaman terhadap falsafah wayang; dapat menciptakan generasi yang berbudi luhur dan berkarakter.
Referensi: Roqib, Moh. 2007. Harmoni Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Majid, Nurcholis. 1995. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadhina

Jumat, 20 Mei 2011

MALAM PERTAMA DI MANGKUNEGARAN

Malam Pertama...Eitsss...jangan salah ya. Malam Pertama ini malam yang tak terlupakan. Kenapa malam pertama, karena baru kali saya melihat pertunjukkan tari di Pura Mangkunegaran. Malam Pertama kali sini,saya menjejakkan kaki di Puro Mangkunegaran, rasa takjub membucah di dada. Gemerlap lampu menyinari sasana mangkunegaran yang eksotis. Pelataran penuh sesak dengan masyarakat Solo yang ingin menyaksikan pertunjukkan seni yang eksotis. Selain itu wisatawan domestik maupun asing juga turut meramaikannya. Walaupun acara ini diperuntukkan untuk karya seni tari, namun ada pula seni lidah lho...Mau tahu.... Di berbagai stan makanan tadi malam menyajikan makanan khas keraton yang menggoyang lidah..
Penjual sedang melayani pembeli makanan khas keraton
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dan saat iu seluruh hadirin berdiri tanda hormat pada negara. Gusti Pangeran Haryo Demanto Kusumo dan Kepala Dinas Surakarta diberi amanat untuk membuka acara ini. Essensi dari performing pun dimulai. Empat tari akan dipertunjukkan dalam acara seni  nan megah.


Menari dengan hati
Pada hakikatnya menari adalah ungkapan sebuah ekspresi jiwa dalam bentuk gerakan kaki, tangan, tubuh dengan teratur. Dan hakikat ini diperankan dengan eksotis oleh gemulai para penari; yang kebanyakan berasal dari Sanggar Langen Praja Pura keraton Solo.  Slogan kota budaya memang patut dijadikan sebagai ikon kota Solo. Seniman Solo mampu meracik gerak dengan indah dan memenuhi 3 kriteria utama unsur tari, yakni
Wiraga
Dalam menari, gerak organ tubuh yang telah digarap diolah dan dihaluskan yang sesuai dengan dasr dan pengelompokkan tariaanya.
Wirama
Ragam gerak angota tubuh yang teratu penjiwaannya dan selaras dengan dinamika iringan music atau wirama yag mengiirnginya
Wirasa
Gerak penjiwaan sesuai dengan maknanya

Tari Gambyong Pareanom

Hemm.. Ayune.... Itulah kata pertama yang ada di benak saya. Putri Keraton ini selain cantik, juga memiliki aura seorang wanita sempurna. Betapa tidak mereka bertujuh tampil memakau hadirin. Dengan busana kemben hitam, irah-irahan jamang di kepala, klatbahu di lengan kanan dan kalung sungsun  ketujuh penari menyerbakkan aura dewi-dewi kahyangan yang turun ke bumi. Beksan Gambyong Pareanom merupakan tarian penyambutan tamu dan berkembang menjadi tarian hiburan. Dan untuk Gambyong Pareanom Mangkunegaran telah diwirengkan sehingga kostum tidak memakai kemben tetapi mekak dengan memakai jamang. Untuk warna kostum sesuai namanya Pareanom adalah hijau kuning.
Tari ini berkembang pada masa pemerintahan Mangkunagoro VI. Sajian ini ditarikan oleh penari putri dari Langenpraja Pura Mangkunegaran
Tari Srimpi PandeLori
Tari Srimpi. Yaa... seperti namanya. Tari ini memiliki gerakan yang lebih halus yang menunjukkan keadatan putri keraton yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Beksan ini menceritakan peperangan sang diah Sirtupelaheli putri dari sri karsinah yangsedang naik buurng garuda melayang di angkasa mencari keberadaan uaminya sang ambyahyang dipenjara oleh prabu kanyun di Parangakik .
Di kerajaan ini adik dari raja parangakik bernama kusuma sudarwerti ingin menolong mengeluaran sang ambyah daripenjara walupun di tantangkakanya. Namun ia berusaha sekuat tenaga karena dalam mimpi sudrwerti merasa ada wangsit baha sang ambyah akan menjai suaminya. Selanjutnya memang terjadi pernikahan itu. Setelah sang ambyah dikeluarkan dari penjara.
Dan ketika sang dyah sirtupelaheli bertemu dengna kusuma sudarwertim terjadilah pperangan itu, karena semua itu tidak ada yang terkalahkan. Akhirnya semuanya mengakui dan menyetujui untuk berdamai dan menerima sang ambyah menadi suaminya brsama.karena semua itu tdk ada yang tekalahkan akhirnya semua menmuamengakui dan menyetujui untuk berdamai dan menerima sang ambyah menjadi suaminya bersama. Tari ini berkembang di pura mangkunegran pada pemerntahan paduka mangkunegara V. Sajian ini ditarikan oleh penari dari langen praja pura.

Tari  Wireng rayana-kalaressna atau Wireng Mantra Kesana
 
Menceritakan pada saat narayana melamar dewi rukmini. Dewi rukmini mau dperistri narayana dengan syarat narayana menjadi seorang raja. Kemudian narayana meminta saran Begawan Padmonobo dan disaankan melawan prabu kala kresna dari kerajaan dwarawati. Beliau memberikan sebuah senjata kepada narayana berua busur panah yang bernama kyai kesawa. Melawan kala kresna. Akhirnya terjadilah peprangan antara prabu narayna dengan kala kresna yang dimenagkan narayana. Pada saat kemenangan narayana, turunlah bathara naradha, narayana memakai mahkota prabu kala kresna dan diberi nama prabu kresna. Dan menjadi raja di kerajaan dwarawati dengan permaisuri dewi rukmini. Tarian ini merupakan ciptaan dari GPH. Herwastokusumo. Ditarikan oleh dua orang putra dari langen praja pura mangkunegaran.
Tari Bregodo Pareanom
Setelah melihat tiga tari berturut-turut, suasana sedikit membosankan dan rasa kantuk mulai meajalela. Namun, saat pembawa acara mulai mempersilakan tari Bregodo performance, suasana langsung bersemangat kembali. Kombinasi dari bonang, kethuk, gendhang, sitter diramu dengn indahnya oleh para paraga. Seperti diberi aba-aba, hadirin pun serentak berdiri. Kemegahan terus berlanjut. Seorang Bapak dari Keraton masuk, membawa sebuah wayang gunungan. Saya sedkit heran. Karena tidak seperti tari-tari yang sebelumnya. Bapak yang berbusana Jawa lengkap itu nembang pambuka dengan merdu. Dan yang lebih menakjubkan lagi, ada seorang penari yan juga dapat menyanyi tembang Jawa. Tari Bregodo Pareanom ini menceritakn tentang Simbol prajurit  atau pasukan perang wanita yang diseut sinelir yang merupakan hasil panggulo wenthah RM. Said dan Matah Ati dengan ciri khas busana hijau kuning. Sebuah karya tari tentang spirit yang ditafsirkan bebas. Saling membntu dan dibantu. Saling memberi dan menerima dan saling dilengkapi dalam sebuah tembang. Yang dilantunkan dalam benih-benih mutiara ang menggambarkan laku RM Said dalam upaya mewujudkan cit-cita luhur unuk menuju tatanan yang lebh baik.
 

Petunjukkan pun usai. Wow... kali ini saya benar-benar puas. Pengalaman pertama di Mangkunegaran yang sangat menakjubkan. Kota Solo memang gudangnya para Seniman. Tarian tak hanya sekedar tarian. tapi sebuah ekspresi jiwa yang mampu memuaskan dahaga manusia akan keindahan.
 



Senin, 16 Mei 2011

DUALISME MASA YANG TUMBUH BERDAMPINGAN (SOLO, ANTARA TRADISI DAN MODERNISASI)

Solo, kota mungil yang sarat akan budaya dan menjadi bagian dari sejarah bangsa. Tak akan pernah kehabisan kata untuk melukiskannya dalam suatu warna. Ya. Solo memang berwarna. Dan warna ini akan diuraikan dalam berbagai spektrum warna yang indah dalam tulisan ini. Mari kita simak.


Solo Riwayatmoe Doloe

Menjejakkan kaki di kota para pandawa ini, kita akan diajak kembali menyelami kisah sejarah masa silam. Surakarta Hadiningrat, kota yang memisahkan diri dari kasultanan Jogja ini kian kokoh berdiri. Bukan karena kekuatan Ki Ageng Semar yang gigih memimpin para punakawan. Tapi karena keampuhan perjuangan rakyat Solo yang tak kenal lelah. Adu domba VOC akhirnya menelurkan Perjanjian tertulis. Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 menyebabkan Kerajaan Mataram terpecah menjadi 2, Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Sunan Pakubuwana III dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sultan Hamengkubuono I. Dan perpecahan juga terjadi di wilayah kerajaan Surakarta Hadiningrat. Di Solo berdiri dua keraton: Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, menjadikan kota Solo sebagai kota dengan dua administrasi.

Solo Kota Seniman
Slogan Solo kota budaya pun disandang bagaikan mahkota Yudhistira yang memimpin Astina. Tebukti ketika keanekaragaman budaya yang diilhami dari hasil-hasil karya para Empu pada masa itu. Dan kini kota Solo tumbuh menjadi centra budaya Jawa yang diunggulkan. Tak hanya kontribusi Pak Gesang yang mengantarkan Bengawan Solo ke Jepang. Tapi Bu Waljinah pun dengan bangganya terbang bersama Walang Kekek-nya. Semua sandiwara dunia ini pun kian menarik karena ramuan hebat dari Pak Anom Suroto dan Ki Joko Edan.

Predikat kota seniman memang pantas disandang kota Solo. Seniman dan seniwati memiliki gemulai tubuh yang indah, dirangkaikan dalam suatu gerak ritmis nan dinamis oleh gadis-gadis manis. Tari Gambyong dipentaskan untuk menyambut kedatangan tamu agung, tari Merak, tari Bondan, dan tari Bedhaya Ketawang yang khusus ditampilkan di Ndalem Keraton. Konon tari Bedhaya Ketawang ini adalah salah satu tarian magis. Dari 9 penari yang menarikan tari Bedhaya, 8 penari diantaranya diperankan oleh putri-putri yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan dari keraton dan seorang penari gaib yang dipercaya sebagai sosok Nyai Roro Kidul.
Dunia pun mengakui. Kota Solo adalah kota seniman sejati. Tiga hakekat seni yakni, cipta, rasa, dan karsa dipandang sebagai suatu hal yang tak terpisahkan. Mereka -seniman- mampu meracik 3 hal itu menjadi helaian Parang Garuda, Sidomukti, Sidoluhur, Truntum, Wahyu Temurun dengan indahnya. Kami -rakyat Solo- dengan bangga mengenakannya sebagai suatu bagian dari sejarah penting hidup kami. Semakin berkembang, Solo menghadirkan festival Solo Batik Carnival sebagai wadah bagi seniman-seniman canting yang kaya inovasi. Setiap tahun SBC digelar dan kala itu juga sukses diraih. Melalang buana hingga ke festival Internasional, duta SBC mengharumkan kota Solo di Chingay Festival in Singapore dan Den Haag, Netherlands.

Perjalanan terus berlanjut. Menyusuri jalan di pusat keramaian di sepanjang situs-situs bersejarah. Letak Kraton Solo sengaja dibangun berdekatan dengan Alun-alun Utara, maupun selatan, serta Masjid Agung dan juga pusat belanja, Pasar Klewer. Tata letak ini adalah warisan ketika kota Solo menjadi bagian dari Kerajaan Mataram. Pada masa kerajaan Hindhu, tata letak dibuat sedemikian rupa agar mempermudah kegiatan di istana kerajaan.

Dua Masa yang Saling Berdampingan
Melihat lebih dalam, Museum Radyapustaka dan Monumen pers menjadi suatu simbol perwujudan dua masa yang dapat hidup berdampingan. Masa lampau yang menjungjung tinggi adat istiadat dan masa modern dengan kemajuan IPTEK.
Dalam era modern ini kota Solo tumbuh dan berkembang menjadi pusat kota. Adanya city walk, Solo Paragon, Mall-mall, dan pusat perbelanjaan serta tak ketinggalan majunya alat transportasi. BST (Batik Solo Trans) maupun bus tingkat Werkudoro menjadi pelengkap yang pas di kota Solo.
Namun, di sisi lain masyarakat Solo masih memegang teguh adat istiadat warisan leluhur. Tata etika kraton sebagai centra pengembangan adat Jawa menjadi suatu bukti nyata, bahwa tradisi masih tetap eksis. Kehidupan masyarakat keraton masih berpegang teguh pada adat istiadat kerajaan. Solah bawa (pembawaan) masyarakat keraton yang sopan, santun, ramah-tamah (grapyak) mampu memberikan image positif, bahwa masyarakat Solo adalah masyarakat yang menjunjung tinggi etika dan sopan santun. Mengilhami pembawaan putri keraton yang anggun dan beretika memberikan pengaruh terhadap masyarakat Solo secara keseluruhan.

Sunan Kaliaga dipandang sebagai tokoh yang berjasa bagi perkembangan kebudayaan masyarakat Solo. Penggabungan dua budaya, yakni Islam dengan tradisi setempat menghasilkan budaya-budaya yang unik. Sebagai contoh wayang kulit, upacara adat grebeg, tradisi sekaten, kirab pusaka, dan kirab kebo bule. Keseluruhannya merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan budaya masyarakat setempat kala itu.
Wayang Kulit
Seperangkat pagelaran wayang kulit beserta gamelan dan parogonya, menjadi satu media untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Selain itu dalam kisah-kisah yang diperankan tokoh wayang, meliki pesan-pesan nasehat kehidupan maupun sebagai wujud kritik sosial.
Upacara Grebeg
Upacara Grebeg diadakan tiga kali dalam setahun, pada tanggal-tanggal yang berkaitan dengan hari besar agama Islam, yakni Garebeg Syawal, Garebeg Maulud, dan Garebeg Besar. Dalam upacara grebeg ini juga akan diarag gunungan yang akan diperebutkan warga. Mereka meyakini bahwa dengan menyimpan bagian dari gunungan itu, mampu memberikan kelancaran bagi usaha mereka.
Peringatan Malam 1 Suro
 
Perayaan Tahun Baru menurut Kalender Jawa. Malam 1 Suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terkahir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Mangkunegaran dilakukan jamasan (pencucian) benda pusaka, kemudian dikirabkan keliling Pura Mangkunegaran.Di Keraton Surakarta, ritual 1 Sura juga dilakukan kirab benda-benda pusaka mengelilingi Benteng Keraton pada dini hari tanggal 8. Yang menarik adalah ikut sertanya beberapa kebo bule (kerbau albino) sebagai cucuk lampah (yagn mengawali rombongan peserta kirab).

Ini adalah suatu keajaiban besar di kota kecil. Keajaiban besar ketika dalam suatu peradaban yang maju dengan segala pernik tradisinya, suatu masyarakat masih tetap kukuh menjaga bahkan melestarikan budaya leluhurnya. Berguru pada Jepang yang berkembang menjadi kiblat teknologi tapi tidak meninggalkan tradisi. Kota Solo perlu meniru Jepang dalam hal ini. Kaum muda Jepang amat bangga menggunakan pakaian adatnya, menarikan tarian tradisinya, dan melestarikan upacara-upacara adatnya. Alangkah lebih baik kaum muda Solo memiliki semangat besar seperti kaum muda Jepang. Mari kita kenakan batik, mari kita gunakan BST dan mari kita kunjungi ikon wisata Solo.


Rabu, 27 April 2011

Tentang "Ratna" bag.1

Pertama posting baru kali...
bukannya sok sibuk atau gimana.... tapi  belum sempet aja n bingung mau nulis apa.

Teman, kali ini aku akan sedikit cerita tentang arti kehidupan.
Hidup itu kesederhanaan, hidup itu bagaimana kita bersyukur dan menikmati setiap jengkal langkah dan setiap hirupan nafas.
Aku punya satu kisah, ini tentang seorang anak. Sebut saja namanya Ratna, ia lahir dan besar dalam keluarga yang berkecukupan, baik itu harta maupun kasih sayang. Tetapi dalam kesehariannya, ia selalu merasa kesepian. Selain karena dia anak tunggal, dia juga sulit untuk bersosialisasi dengan temannya. Ratna, dia gadis yang cantik, polos, dan lugu. Aku suka dengan gaya bicaranya.Sobat, mungkin ketika kalian melihat ratna untuk yang pertama kali, kalian akan merasa heran. Dia seperti anak yang terbelakang, tapi sebenarnya TIDAK. Dia hanya sulit untuk berkomunikasi dengan lancar.Itu disebabkan karena ia lahir prematur. Bayangkan saja, ketika dia terlahir ke dunia, ia hanya berbobot 17 ons. Sebulan ia baru bisa merasakan hangatnya pelukan ibunda. Karena sebelumnya ia harus merasakan hangatnya aliran listrik di ruang inkubator.

Aku sempat tak kuasa ketika dia berkata seperti ini "Mbak, dunia ini jahatnya"
 Dalam batinku, Oh ya Allah..kenapa dia berkata seperti itu,,, padahal aku merasa, dia itu hidup enak, hidup berkecukupan, penuh belaian kasih sayang... Tapi kenapa Ratna memiliki pemikiran seperti itu???
 Aku terus mencoba untuk meyakinkan Ratna "Dik, hidup itu indah kok, tapi tergantung bagaimana kita menikmatinya dan selalu bersyukur atas pemberian-Nya. Kalau kita merasa diperlakukan tidak adil, maka Allah tidak akan tinggal diam dik, Allah itu Maha Tahu,,, dan semua perbuatan manusia di dunia ini akan mendapat balaan suatu saat nanti."

"Iya mbak aku percaya itu. Tapi saat ini aku merasa dunia ini tidak adil. Teman-teman di sekolah tak  ada yang mau berteman denganku. Sekalinya ada, mereka hanya memanfaatkan materi yang dimiliki bapak."

"Mbak tahu dik,,,, tapi yakin aja dik,,, gag semua manusia di dunia ini jahat kog dik"

"Gitu ya mbak? Mbak aku mau tanya kenapa sih di dunia ini harus ada orang jahat?"

"Gini dik, Allah menciptakan isi muka bumi ini,, pasti ada yang jahat dan ada yang baik. Matematika aja ada yang positif dan ada yang negatif. Iya, kan? Jadi sebagai manusia kita juga harus memiliki pilihan, kita mau mengikuti sisi yang baik atau yang jahat. Dan semua perbuatan kita di dunia pasti akan mendapat balasan di dunia maupun di kehidupan nanti setelah di dunia."

"Iya mbak....aku percaya itu."
"Nah, gitu dik, mbak yakin adik bisa...."
 Aku sedikit lega. Karena aku hanya ingin membantunya meraih apa yang dia impikan dan orangtuanya inginkan. Aku sadar tantangan ini begitu berat. Dan aku yakin pasti aku bisa. Walau bagaimanapun tugas seorang calon guru adalah membantu mereka-mereka meraih mimpi. Kesuksesan yang dia raih adalah suatu kepuasan batin.

Dari kisah seorang Ratna, aku belajar bagaimana bersyukur.,,bersyukur,,, dan berterima kasih kepada Allah. Walaupun hidup sederhana,, tak punya apa-apa,,,(nge-PLUR dikitlah,,he) tapi aku tetap menikmati hidupku ini. Sejengkal kisah pengalamanku ini, adalah suatu hal yang tak terkira dan tag bisa dinilai dengan berapa pun materi.

Seorang Ratna, yang kini berjuang melawan ketidakadilan.
bersambung