BERBAGI KATA, BERBAGI RASA, BERBAGI CERITA

Jumat, 20 Mei 2011

MALAM PERTAMA DI MANGKUNEGARAN

Malam Pertama...Eitsss...jangan salah ya. Malam Pertama ini malam yang tak terlupakan. Kenapa malam pertama, karena baru kali saya melihat pertunjukkan tari di Pura Mangkunegaran. Malam Pertama kali sini,saya menjejakkan kaki di Puro Mangkunegaran, rasa takjub membucah di dada. Gemerlap lampu menyinari sasana mangkunegaran yang eksotis. Pelataran penuh sesak dengan masyarakat Solo yang ingin menyaksikan pertunjukkan seni yang eksotis. Selain itu wisatawan domestik maupun asing juga turut meramaikannya. Walaupun acara ini diperuntukkan untuk karya seni tari, namun ada pula seni lidah lho...Mau tahu.... Di berbagai stan makanan tadi malam menyajikan makanan khas keraton yang menggoyang lidah..
Penjual sedang melayani pembeli makanan khas keraton
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dan saat iu seluruh hadirin berdiri tanda hormat pada negara. Gusti Pangeran Haryo Demanto Kusumo dan Kepala Dinas Surakarta diberi amanat untuk membuka acara ini. Essensi dari performing pun dimulai. Empat tari akan dipertunjukkan dalam acara seni  nan megah.


Menari dengan hati
Pada hakikatnya menari adalah ungkapan sebuah ekspresi jiwa dalam bentuk gerakan kaki, tangan, tubuh dengan teratur. Dan hakikat ini diperankan dengan eksotis oleh gemulai para penari; yang kebanyakan berasal dari Sanggar Langen Praja Pura keraton Solo.  Slogan kota budaya memang patut dijadikan sebagai ikon kota Solo. Seniman Solo mampu meracik gerak dengan indah dan memenuhi 3 kriteria utama unsur tari, yakni
Wiraga
Dalam menari, gerak organ tubuh yang telah digarap diolah dan dihaluskan yang sesuai dengan dasr dan pengelompokkan tariaanya.
Wirama
Ragam gerak angota tubuh yang teratu penjiwaannya dan selaras dengan dinamika iringan music atau wirama yag mengiirnginya
Wirasa
Gerak penjiwaan sesuai dengan maknanya

Tari Gambyong Pareanom

Hemm.. Ayune.... Itulah kata pertama yang ada di benak saya. Putri Keraton ini selain cantik, juga memiliki aura seorang wanita sempurna. Betapa tidak mereka bertujuh tampil memakau hadirin. Dengan busana kemben hitam, irah-irahan jamang di kepala, klatbahu di lengan kanan dan kalung sungsun  ketujuh penari menyerbakkan aura dewi-dewi kahyangan yang turun ke bumi. Beksan Gambyong Pareanom merupakan tarian penyambutan tamu dan berkembang menjadi tarian hiburan. Dan untuk Gambyong Pareanom Mangkunegaran telah diwirengkan sehingga kostum tidak memakai kemben tetapi mekak dengan memakai jamang. Untuk warna kostum sesuai namanya Pareanom adalah hijau kuning.
Tari ini berkembang pada masa pemerintahan Mangkunagoro VI. Sajian ini ditarikan oleh penari putri dari Langenpraja Pura Mangkunegaran
Tari Srimpi PandeLori
Tari Srimpi. Yaa... seperti namanya. Tari ini memiliki gerakan yang lebih halus yang menunjukkan keadatan putri keraton yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Beksan ini menceritakan peperangan sang diah Sirtupelaheli putri dari sri karsinah yangsedang naik buurng garuda melayang di angkasa mencari keberadaan uaminya sang ambyahyang dipenjara oleh prabu kanyun di Parangakik .
Di kerajaan ini adik dari raja parangakik bernama kusuma sudarwerti ingin menolong mengeluaran sang ambyah daripenjara walupun di tantangkakanya. Namun ia berusaha sekuat tenaga karena dalam mimpi sudrwerti merasa ada wangsit baha sang ambyah akan menjai suaminya. Selanjutnya memang terjadi pernikahan itu. Setelah sang ambyah dikeluarkan dari penjara.
Dan ketika sang dyah sirtupelaheli bertemu dengna kusuma sudarwertim terjadilah pperangan itu, karena semua itu tidak ada yang terkalahkan. Akhirnya semuanya mengakui dan menyetujui untuk berdamai dan menerima sang ambyah menadi suaminya brsama.karena semua itu tdk ada yang tekalahkan akhirnya semua menmuamengakui dan menyetujui untuk berdamai dan menerima sang ambyah menjadi suaminya bersama. Tari ini berkembang di pura mangkunegran pada pemerntahan paduka mangkunegara V. Sajian ini ditarikan oleh penari dari langen praja pura.

Tari  Wireng rayana-kalaressna atau Wireng Mantra Kesana
 
Menceritakan pada saat narayana melamar dewi rukmini. Dewi rukmini mau dperistri narayana dengan syarat narayana menjadi seorang raja. Kemudian narayana meminta saran Begawan Padmonobo dan disaankan melawan prabu kala kresna dari kerajaan dwarawati. Beliau memberikan sebuah senjata kepada narayana berua busur panah yang bernama kyai kesawa. Melawan kala kresna. Akhirnya terjadilah peprangan antara prabu narayna dengan kala kresna yang dimenagkan narayana. Pada saat kemenangan narayana, turunlah bathara naradha, narayana memakai mahkota prabu kala kresna dan diberi nama prabu kresna. Dan menjadi raja di kerajaan dwarawati dengan permaisuri dewi rukmini. Tarian ini merupakan ciptaan dari GPH. Herwastokusumo. Ditarikan oleh dua orang putra dari langen praja pura mangkunegaran.
Tari Bregodo Pareanom
Setelah melihat tiga tari berturut-turut, suasana sedikit membosankan dan rasa kantuk mulai meajalela. Namun, saat pembawa acara mulai mempersilakan tari Bregodo performance, suasana langsung bersemangat kembali. Kombinasi dari bonang, kethuk, gendhang, sitter diramu dengn indahnya oleh para paraga. Seperti diberi aba-aba, hadirin pun serentak berdiri. Kemegahan terus berlanjut. Seorang Bapak dari Keraton masuk, membawa sebuah wayang gunungan. Saya sedkit heran. Karena tidak seperti tari-tari yang sebelumnya. Bapak yang berbusana Jawa lengkap itu nembang pambuka dengan merdu. Dan yang lebih menakjubkan lagi, ada seorang penari yan juga dapat menyanyi tembang Jawa. Tari Bregodo Pareanom ini menceritakn tentang Simbol prajurit  atau pasukan perang wanita yang diseut sinelir yang merupakan hasil panggulo wenthah RM. Said dan Matah Ati dengan ciri khas busana hijau kuning. Sebuah karya tari tentang spirit yang ditafsirkan bebas. Saling membntu dan dibantu. Saling memberi dan menerima dan saling dilengkapi dalam sebuah tembang. Yang dilantunkan dalam benih-benih mutiara ang menggambarkan laku RM Said dalam upaya mewujudkan cit-cita luhur unuk menuju tatanan yang lebh baik.
 

Petunjukkan pun usai. Wow... kali ini saya benar-benar puas. Pengalaman pertama di Mangkunegaran yang sangat menakjubkan. Kota Solo memang gudangnya para Seniman. Tarian tak hanya sekedar tarian. tapi sebuah ekspresi jiwa yang mampu memuaskan dahaga manusia akan keindahan.
 



Senin, 16 Mei 2011

DUALISME MASA YANG TUMBUH BERDAMPINGAN (SOLO, ANTARA TRADISI DAN MODERNISASI)

Solo, kota mungil yang sarat akan budaya dan menjadi bagian dari sejarah bangsa. Tak akan pernah kehabisan kata untuk melukiskannya dalam suatu warna. Ya. Solo memang berwarna. Dan warna ini akan diuraikan dalam berbagai spektrum warna yang indah dalam tulisan ini. Mari kita simak.


Solo Riwayatmoe Doloe

Menjejakkan kaki di kota para pandawa ini, kita akan diajak kembali menyelami kisah sejarah masa silam. Surakarta Hadiningrat, kota yang memisahkan diri dari kasultanan Jogja ini kian kokoh berdiri. Bukan karena kekuatan Ki Ageng Semar yang gigih memimpin para punakawan. Tapi karena keampuhan perjuangan rakyat Solo yang tak kenal lelah. Adu domba VOC akhirnya menelurkan Perjanjian tertulis. Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 menyebabkan Kerajaan Mataram terpecah menjadi 2, Surakarta Hadiningrat yang dipimpin oleh Sunan Pakubuwana III dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sultan Hamengkubuono I. Dan perpecahan juga terjadi di wilayah kerajaan Surakarta Hadiningrat. Di Solo berdiri dua keraton: Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, menjadikan kota Solo sebagai kota dengan dua administrasi.

Solo Kota Seniman
Slogan Solo kota budaya pun disandang bagaikan mahkota Yudhistira yang memimpin Astina. Tebukti ketika keanekaragaman budaya yang diilhami dari hasil-hasil karya para Empu pada masa itu. Dan kini kota Solo tumbuh menjadi centra budaya Jawa yang diunggulkan. Tak hanya kontribusi Pak Gesang yang mengantarkan Bengawan Solo ke Jepang. Tapi Bu Waljinah pun dengan bangganya terbang bersama Walang Kekek-nya. Semua sandiwara dunia ini pun kian menarik karena ramuan hebat dari Pak Anom Suroto dan Ki Joko Edan.

Predikat kota seniman memang pantas disandang kota Solo. Seniman dan seniwati memiliki gemulai tubuh yang indah, dirangkaikan dalam suatu gerak ritmis nan dinamis oleh gadis-gadis manis. Tari Gambyong dipentaskan untuk menyambut kedatangan tamu agung, tari Merak, tari Bondan, dan tari Bedhaya Ketawang yang khusus ditampilkan di Ndalem Keraton. Konon tari Bedhaya Ketawang ini adalah salah satu tarian magis. Dari 9 penari yang menarikan tari Bedhaya, 8 penari diantaranya diperankan oleh putri-putri yang memiliki hubungan darah dan kekerabatan dari keraton dan seorang penari gaib yang dipercaya sebagai sosok Nyai Roro Kidul.
Dunia pun mengakui. Kota Solo adalah kota seniman sejati. Tiga hakekat seni yakni, cipta, rasa, dan karsa dipandang sebagai suatu hal yang tak terpisahkan. Mereka -seniman- mampu meracik 3 hal itu menjadi helaian Parang Garuda, Sidomukti, Sidoluhur, Truntum, Wahyu Temurun dengan indahnya. Kami -rakyat Solo- dengan bangga mengenakannya sebagai suatu bagian dari sejarah penting hidup kami. Semakin berkembang, Solo menghadirkan festival Solo Batik Carnival sebagai wadah bagi seniman-seniman canting yang kaya inovasi. Setiap tahun SBC digelar dan kala itu juga sukses diraih. Melalang buana hingga ke festival Internasional, duta SBC mengharumkan kota Solo di Chingay Festival in Singapore dan Den Haag, Netherlands.

Perjalanan terus berlanjut. Menyusuri jalan di pusat keramaian di sepanjang situs-situs bersejarah. Letak Kraton Solo sengaja dibangun berdekatan dengan Alun-alun Utara, maupun selatan, serta Masjid Agung dan juga pusat belanja, Pasar Klewer. Tata letak ini adalah warisan ketika kota Solo menjadi bagian dari Kerajaan Mataram. Pada masa kerajaan Hindhu, tata letak dibuat sedemikian rupa agar mempermudah kegiatan di istana kerajaan.

Dua Masa yang Saling Berdampingan
Melihat lebih dalam, Museum Radyapustaka dan Monumen pers menjadi suatu simbol perwujudan dua masa yang dapat hidup berdampingan. Masa lampau yang menjungjung tinggi adat istiadat dan masa modern dengan kemajuan IPTEK.
Dalam era modern ini kota Solo tumbuh dan berkembang menjadi pusat kota. Adanya city walk, Solo Paragon, Mall-mall, dan pusat perbelanjaan serta tak ketinggalan majunya alat transportasi. BST (Batik Solo Trans) maupun bus tingkat Werkudoro menjadi pelengkap yang pas di kota Solo.
Namun, di sisi lain masyarakat Solo masih memegang teguh adat istiadat warisan leluhur. Tata etika kraton sebagai centra pengembangan adat Jawa menjadi suatu bukti nyata, bahwa tradisi masih tetap eksis. Kehidupan masyarakat keraton masih berpegang teguh pada adat istiadat kerajaan. Solah bawa (pembawaan) masyarakat keraton yang sopan, santun, ramah-tamah (grapyak) mampu memberikan image positif, bahwa masyarakat Solo adalah masyarakat yang menjunjung tinggi etika dan sopan santun. Mengilhami pembawaan putri keraton yang anggun dan beretika memberikan pengaruh terhadap masyarakat Solo secara keseluruhan.

Sunan Kaliaga dipandang sebagai tokoh yang berjasa bagi perkembangan kebudayaan masyarakat Solo. Penggabungan dua budaya, yakni Islam dengan tradisi setempat menghasilkan budaya-budaya yang unik. Sebagai contoh wayang kulit, upacara adat grebeg, tradisi sekaten, kirab pusaka, dan kirab kebo bule. Keseluruhannya merupakan hasil akulturasi budaya Islam dan budaya masyarakat setempat kala itu.
Wayang Kulit
Seperangkat pagelaran wayang kulit beserta gamelan dan parogonya, menjadi satu media untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Selain itu dalam kisah-kisah yang diperankan tokoh wayang, meliki pesan-pesan nasehat kehidupan maupun sebagai wujud kritik sosial.
Upacara Grebeg
Upacara Grebeg diadakan tiga kali dalam setahun, pada tanggal-tanggal yang berkaitan dengan hari besar agama Islam, yakni Garebeg Syawal, Garebeg Maulud, dan Garebeg Besar. Dalam upacara grebeg ini juga akan diarag gunungan yang akan diperebutkan warga. Mereka meyakini bahwa dengan menyimpan bagian dari gunungan itu, mampu memberikan kelancaran bagi usaha mereka.
Peringatan Malam 1 Suro
 
Perayaan Tahun Baru menurut Kalender Jawa. Malam 1 Suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terkahir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Mangkunegaran dilakukan jamasan (pencucian) benda pusaka, kemudian dikirabkan keliling Pura Mangkunegaran.Di Keraton Surakarta, ritual 1 Sura juga dilakukan kirab benda-benda pusaka mengelilingi Benteng Keraton pada dini hari tanggal 8. Yang menarik adalah ikut sertanya beberapa kebo bule (kerbau albino) sebagai cucuk lampah (yagn mengawali rombongan peserta kirab).

Ini adalah suatu keajaiban besar di kota kecil. Keajaiban besar ketika dalam suatu peradaban yang maju dengan segala pernik tradisinya, suatu masyarakat masih tetap kukuh menjaga bahkan melestarikan budaya leluhurnya. Berguru pada Jepang yang berkembang menjadi kiblat teknologi tapi tidak meninggalkan tradisi. Kota Solo perlu meniru Jepang dalam hal ini. Kaum muda Jepang amat bangga menggunakan pakaian adatnya, menarikan tarian tradisinya, dan melestarikan upacara-upacara adatnya. Alangkah lebih baik kaum muda Solo memiliki semangat besar seperti kaum muda Jepang. Mari kita kenakan batik, mari kita gunakan BST dan mari kita kunjungi ikon wisata Solo.